Wednesday, February 20, 2013

Dapatkah Hary Tanoesoedibjo Kuasai Tvone Dan Antv?



[imagetag]

Secara mengejutkan dalam konfrensi pers undur diri Hary Tanoesoedibjo dari Partai NasDem, pemilik Metro TV dan juga pendiri Partai NasDem Surya Paloh mengungkapkan pada publik rencana HT, panggilan akrab bos MNC Group, membeli stasiun tvOne dan antv, yang saat ini tergabung dalam PT Visi Media Asia milik keluarga Aburizal Bakrie.

Dua televisi ini, merupakan anak usaha dari perusahaan berkode emiten VIVA, yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Senin 21 November 2011. Pada awal melantai di bursa, perusahaan ini paling tidak menawarkan saham perdana sebanyak 2,286 miliar lembar saham atau setara 14,21 persen dengan harga Rp 300 per saham.

Apabila HT serius untuk membeli televisi tersebut, selain dengan cara tertutup alias negosiasi dengan pemegang saham, mantan pengurus Partai Nasdem ini, bisa membeli melalui saham yang diperjualbelikan di lantai bursa.

"Secara undang-undang perusahaan itu sah. Tapi ada aturan soal frekuensi yang dilanggar," ujar Anggota Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran (KIDP) Hendrayana pada merdeka.com, Selasa (22/1).

Dia mengatakan dalam aturan undang-undang penyiaran, jika memang ada yang ingin mengambil alih perusahaan televisi yang sudah memiliki frekuensi, sudah tidak bisa. Dalam artian, ada tahapan yang harus dilalui bukan sekedar tahapan bisnis semata.

"Menurut undang undang penyiaran, frekuensi hanya bisa dimiliki satu perusahaan, satu cangkupan wilayah. Jika benar, semakin terlihat adanya konglomerasi media yang menggurita dan yang dirugikan adalah kepentingan publik, dominasi kelompok atau satu orang pada frekuensi penyiaran rugikan publik," katanya.

Apabila rencana tersebut terjadi, pemerintah bisa mengambil alih frekuensi yang diberikan. Selain itu, dalam undang-undang ada evaluasi terhadap frekuensi yang digunakan karena frekuensi itu terbatas dan milik publik. "Dalam jual beli frekuensi perusahaan televisi tidak bisa begitu saja menjual, harus diberikan dulu pada pemerintah," katanya.

Akan tetapi, kabar pembelian tersebut langsung dibantah oleh pihak Bakrie. "Tidak ada (penjualan antv dan tvOne)," tegas juru bicara keluarga Bakrie Lalu Mara kepada merdeka.com, Selasa (22/1).

Analis Trust Securities Reza Priyambada mengaku tidak yakin atas kebenaran pernyataanSurya Paloh. Menurut dia, antv dan tvOne adalah satu dari sekian tambang uang Bakrie yang masih punya prospek bagus. "Dari beberapa perusahaan grup Bakrie yang merugi, VIVA menjadi anak usaha yang untung di antara yang merugi," ujar Reza kepada merdeka.com, Selasa (27/1).

Dari laporan keuangan kuartal ketiga tahun lalu, laba VIVA naik jadi Rp 85,26 miliar dari tahun sebelumnya hanya untung Rp 21,86 miliar. "Kalau menurut saya grup Bakrie belum akan jual tvOne dan antv," ujarnya.

Sekretaris Perusahaan MNC Media Arya mengaku tidak tahu rencana atasannya membeli dua televisi tersebut atau saham perusahaan media milik Bakrie. "Saya tidak tahu, apa hubungannya Surya Paloh ngurusin bisnis Pak Hary?" katanya.

Arya menegaskan dirinya tidak mengetahui dan tidak pernah ada pembicaraan terkait hal tersebut. "Bisnis tetap bisnis, tidak ada hubungan dengan politik. Mungkin Pak Surya sedang cari perhatian, " ujarnya singkat.

Sumber

#dcbfa6

No comments:

Post a Comment